Pakan Racik vs Pakan Pabrikan: Mana yang Beneran Bikin Dompet Peternak "Ngisi"?
Jadi peternak ayam petelur itu sebenarnya bukan cuma soal kasih makan terus nunggu ayam bertelur. Jujur saja, ini adalah bisnis "adu teliti". Bayangkan saja, hampir 80% modal harian kita itu habisnya cuma buat beli pakan. Kalau kita salah hitung atau asal-asalan pilih pakan, ya jangan kaget kalau untungnya malah habis nggak berbekas.
Belakangan ini banyak yang tanya ke saya, "Mending beli pakan jadi (pabrikan) atau ngeracik sendiri?" Apalagi sekarang harga jagung lagi kayak roller coaster, kadang turun, eh besoknya sudah naik lagi.
Berdasarkan pengalaman saya ngeracik pakan buat ayam usia 18 minggu ke atas di daerah kita, saya mau bagi cerita. Mana yang lebih untung dan gimana cara saya bertahan pas harga telur lagi nggak bersahabat.
Nasib Peternak Tergantung "Napas" Harga Telur
Sebelum kita hitung-hitungan pakan, kita harus lihat dulu harga telur di pasar. Namanya dagang, harganya nggak pernah pasti. Saya pernah senang banget pas telur laku Rp28.000/kg. Rasanya capek di kandang langsung hilang! Terus harga Rp25.000/kg juga masih sering kita temui.
Tapi, ada kalanya mental kita diuji habis-habisan pas harga telur drop ke Rp23.000/kg. Nah, di harga "zona merah" inilah kita dituntut putar otak.
Kenapa harga telur ini penting? Ya karena dari situlah napas kita. Kalau kita cuma pakai pakan pabrikan yang harganya lumayan mahal (sekitar Rp7.500/kg), pas harga telur drop ke Rp23.000, kita sudah bukan nyari untung lagi, tapi cuma kerja bakti alias nombok. Di sinilah pakan racik jadi "penyelamat" dompet saya.
Rahasia Racikan Kandang Saya
Buat ayam yang sudah masuk masa produksi, saya nggak mau main-main soal gizi. Resep andalan saya cuma tiga bahan:
- 35% Konsentrat: Ini kunci proteinnya. Harganya sekitar Rp400rb - Rp410rb per karung (50 kg).
- 50% Jagung Kuning: Ini yang paling menentukan. Kalau lagi hoki, saya bisa beli langsung dari petani seharga Rp4.800/kg. Tapi kalau lagi sulit, terpaksa beli ke Bandar meskipun harganya bisa tembus Rp6.800/kg.
- 15% Dedak (Bekatul): Untungnya di Majalengka banyak penggilingan padi. Saya punya langganan tetap harganya flat Rp3.000/kg.
Mari Kita Hitung Untungnya
1. Pas Lagi Hoki (Dapat Jagung Petani Rp 4.800)
2. Pas Lagi Sulit Harga Lagi Naik (Beli Jagung ke Bandar Rp 6.800)
Kenapa Harus Berani Ngeracik Sendiri?
- Ngaduk Harus Rata: Kalau nggak rata, ayam makannya cuma milih-milih jagungnya saja. Efeknya, produksi telur jadi nggak stabil.
- Cek Kualitas Dedak: Hati-hati sama dedak murah tapi isinya sekam (kulit padi) giling. Ayam jadi cepat kenyang tapi nggak bertelur.
- Hati-hati Jamur: Apalagi kalau beli jagung di bandar pas musim hujan, pastikan jagungnya benar-benar kering biar ayam nggak sakit.
Posting Komentar untuk "Pakan Racik vs Pakan Pabrikan: Mana yang Beneran Bikin Dompet Peternak "Ngisi"?"